Das Leben Geht Weiter

Kalian semua pasti pernah berada di situasi, dimana semua hal seakan-akan nggak ada yang beres. Ya intinya semua carut-marut dan membuat kita cukup stress bahkan sedikit depresi. Mungkin kalo lo baca postingan gue beberapa bulan lalu, kelihatan banget gue disitu was not okay. I was devastated and depressed sama hubungan pertemanan gue, kuliah, sama diri gue yang mentally sendiri nggak pernah cerita sama siapa-siapa lagi. Kalau gue flashback, saat-saat itu semesta alam emang maksa gue untuk grow up dan mulai berpikir secara dewasa. Sulit banget, sulit maksud gue adalah prosesnya. Gue kayak berasa lagi di boot camp. Gimana nggak, realizing that everything I believe in is completely bullshit. It sucks big time. Kalo di pikir-pikir semua hal yang kemaren bener-bener sampah dan bikin gue pusing. But you know what? I learned. Gue ngga perlu ceritain detail masalah gue, karena gue udah janji nggak akan pernah lagi ngomongin itu di blog.

Tutup buku, i'm fine now. Gue belajar dari kesalahan-kesalahan gue kemaren, mungkin dulu gue kurang bersyukur dan terlalu khawatir aja. Sekarang gue cukup senang kok menjalani keseharian gue. Bersyukur masih dikasih sehat sama Allah, seneng masih bisa adem walaupun lagi kesel, seneng kalau gue bosen masi bisa nonton video idol grup yang lucu, bersyukur tiap hari dibikin senyum sama chat bubble, masih bisa tidur-tiduran gabut di rumah, dan yang terbaru, super bersyukur gue bisa nggak terlalu ngejudge diri sendiri karena ngeliat Lucas secinta itu sama diri dia sendiri.
I'm happy, that's it. I know there are more to come.

Mungkin dulu gue terlalu kaku. Gue berpikir kalau kebahagiaan gue hanya datang dari seorang teman, but I was totally wrong. Bahagia itu bisa datang dari mana aja. Even a stranger can make you laugh. Dan sepertinya dulu gue terlalu bergantung sama quality time gue dengan keberadaan orang-orang disekitar gue yang membuat gue merasa hidup berdampingan dengan orang lain lebih penting, padahal harusnya diri gue dulu yang perlu diajak hidup berdampingan. Mata gue udah lumayan kebuka sekarang.

Be grateful for whatever God has given to you, because God knows best.

Terima kasih yaa Allah untuk semuanya. Maafin saya kalau solatnya masih bolong-bolong.
Share:

Stay Hungry

Dikarenakan gue lagi jadi pengangguran (lagi), gue menghabiskan hari-hari gue dengan menonton Masterchef yang udah lama banget. Jujur gue lebih prefer sama Masterchef Australia ketimbang yang USA. Kenapa? Abisnya yang USA lebay abis. Nggak jurinya, nggak pesertanya, semuanya lebay. Pertama jurinya, siapa namanya? Gordon Ramsey? Dia lebay parah. Apalagi pas dia di Hell's Kitchen. Kerjaannya ngamuk-ngamuk mulu. Mana aksennya british kan, jadi tambah mikir gue dengernya. Pesertanya juga kayaknya niat banget untuk berkompetisi sampe nggak jarang yang satu throwing other competitors under the bus. Persaingan yang sangat tidak sehat. Mereka harus banyak makan vitamin.


Berbeda dengan orang-orang di US, si peserta Masterchef Australia lebih terlihat selow dan tenang. Mereka pun mengangap saingannya adalah keluarga. Kalau lo sering denger yang USA ngomong "I'm not here to make friends. I'm here to win.", mungkin si Aussie ngomong "I'm so happy that he's going to the next round. So we can stay here a little bit longer and make great food.". Elegan.

Padahal awalnya gue mau ngepost foto makanan yang gue temuin di internet. Tapi jadi melenceng ngomong Masterchef. Yaiyalah coy. Pendahuluan dulu. Selow...

Di satu episode si Ben, peserta dari Masterchef Aussie masak Kecap Manis Lamb. Guess what? Dia menang hahaha. Juri-jurinya kayak kegirangan gitu makaninnya. Dalem hati gue "Yaelah, ini mah ibarat makanan gue sehari-hari.Emang dasar bule biasa makan makanan hambar."
Emang bukan rahasia lagi kalau masakan indonesia itu enak-enak. Bumbunya pas. Kalau masakan india bumbunya kebanyakan, ampe rasanya kadang aneh. Sementara masakan eropa bumbunya kaga jelas. Kayaknya di masaknya cuma sama garam-merica doang. Presentasi nya doang yang bagus.
Mari kita bayangin betapa lezatnya masakan-masakan di bawah ini. Untung puasa masih beberapa minggu lagi ya.










Gimana? Laper nggak liatnya? Gue tiba-tiba ngidam soto babat bibi gue. Enaknya parah, makannya ampe keringetan pedes. Biasanya kalo lagi ngidam gini gue cuma bisa menunggu esok tiba, karena rasanya ingin makan itu akan hilang. Nasib jarang ada tukang jualan. mau makan yang cuma keluar jalan aja susah. Huh.

Anyway, yeah. Kita nggak terbiasa sama rasa yang simple, selalu bold flavour. Di buku-buku resep aja bahan-bahannya banyak bener. Daun ini lah, daun itu lah. Semuanya dimasukin dan voila! Magic.

Sekarang gue mau ngapain ya. Jadi kepingin bikin mie nih. Kemarin gue udah makan mie sebenernya. Gara-gara abis pulang kampung. Alhasil pengeeeeeen makan, tapi maleeees makan. Okebye!
Share: