Life Update

Due to overflowing overcrowded mind, here I am writing a new blog post.
This post might boring some.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sebenernya bulan oktober lalu gue ada ide nulis, tapi karena saat itu gue lagi sibuk belajar untuk mengerti bahasa, menulis cerita dan membuat serta mengorganisir beberapa website yang gue punya jadinya nulis blog ini agak sedikit terdistraksi. Sekarang pun sebenernya gue lagi nggak terlalu menggebu-gebu banget untuk menulis, karena pikiran gue udah agak nggak used up untuk bikin tulisan atau cerita. Pikiran gue lagi used up untuk kerja dan sedikit mengembangkan dan belajar beberapa hal. Gue pengen sih mengembangkan kehidupan sosial gue.
"Kehidupan sosial? I thought you were an introvert and anti-social."

Believe it or not di bulan ini gue udah jauh banget sama orang-orang yang ada di kontak whatsapp gue. That's actually good but worst too anyway: being far from people that used to be your friend before. Satu orang ada sih yang suka ngehubungin gue, tapi buruknya gue adalah gue sekarang agak males kalo harus chattan, tapi kalo telpon juga gue kadang suka kadang nggak terlalu. Kehidupan komunikasi gue agak sulit ya. Gue chattan sama satu orang ini agak kaget sih, mungkin karena nggak biasa aja. What i know is menggunakan aku kamu antara perempuan dan laki-laki kadang agak menggelikan menurut gue pribadi. Even pacaran make aku kamu aja kadang kek agak gimana gitu. Tapi gue tau aku kamu itu bahasa indonesia yang baik dan gue selalu menemukan kata itu di setiap bacaan yang gue baca, waktu gue tiba-tiba dihadapkan dengan orang yang mengaplikasikan itu gue sebenernya agak canggung. Mungkin kalo emang udah bestie-an banget gue nya sama dia even itu laki-laki kayaknya nggak bakal canggung sih. Karena baru banget berhubungan lagi jadinya agak canggung dan agak males juga kalo nggak terlalu penting. Kayaknya gue terlalu pemilih ya lama-lama dan gue nggak tau harus suka atau nggak sama sisi baru gue yang ini.

Me being more open and approachable nowadays got me thinking, "Kenapa gue harus terbuka sama orang? Kenapa gue harus menunjukkan diri gue ke orang lain? Mereka aja tertutup sama gue lalu kenapa gue harus melakukan itu?". Terus gue merasa sih gue mulai mikirnya aneh kayak mereka aja nganggep gue nggak ada so do I. Jadi apa yang orang lain tunjukkan ke gue ya gue jadi mikir gue juga akan bersikap begitu. Gue pikir kalo gue terlalu mikirin orang-orang terdekat gue yang sekarang entah ada di antah-berantah dan mereka sedang apa kayak cuma menyita ruang di otak dan pemikiran gue. Wow... belagu sekali gue.
Tapi gue kayak gini juga bukan tanpa alasan sih. Just remember every action have a reason behind it. Dan gue punya sebab akibatnya kenapa gue kayak gini. Dulu gue orangnya gampang kepikiran kalo udah bestie banget sama orang terus orangnya tiba-tiba pergi hilang entah kenapa dan dimana. Dia ada dimana-mana tapi buat dihubungi aja susah. Kalau pun ada nanti jawaban paling awal adalah tenggelem chatnya. Dulu gue gampang sakit hati kalo nemu temen deket yang tiba-tiba kayak gini padahal ada di segala platform. Sekarang gue bodo amat. Why? Because I am tired being overthinker caused the action from people that I thought really *close* to me. I'll give you some examples:

"Kali aja dia sibuk."
"Lo harus ngerti orang-orang itu punya kesibukan."
"Mungkin chatnya tenggelem."
"........ dan segala kasus lainnya".

Lalu waktu mereka lagi sedih dan nggak baik-baik aja *dang* mereka muncul. Karena berlangsung seperti itu terus-menerus. Gue mulai mikir "Ah.. Hidup gue aja udah melelahkan sekali. Nggak sanggup gue kalo harus dengerin kesedihan dan kehidupan lelahnya orang lain. Gue aja survive sama diri sendiri udah kek pengen mati. Dia udah survive sama diri sendiri terus ditemenin partner dikelilingi orang banyak masih aja dateng ke gue." Gue nggak mau deh sekarang nampung kesedihan orang-orang kalo cuma bikin gue ikutan mikir gimana nanggepinnya, kesedihan yang sering gue rasain aja gue masih pusing mikirin jalannya harus gimana.

Anways, gue pernah baca tulisan udah lama sih intinya adalah:
"Kalo kamu jadi orang yang terakhir diajak main sama orang atau diajak main nya dadakan dan tiba-tiba sama orang. Kamu jangan mau. Karena sebenernya itu nggak murni mau ngajak main kamu. Hheee..."

Yes, I read the "Hheeeeee". Karena itu gue mulai mikir ke belakang ke beberapa kisah yang pernah terjadi. Gue merasa kenapa gue nggak sadar. Gue akui sih gue sebenernya ada rasa seneng kalo diajak main sama orang, but after gue baca itu gue jadi kok gue bodoh banget ya. Hheeee. Gue selalu menertawakan kebodohan gue akan koneksi yang pernah gue miliki dengan orang lain beberapa bulan belakangan ini. 

Now I am with myself and my family. Gue agak capek harus berada di lingkaran pertemanan saat ini. Isinya basa-basi nanya kesibukan akhir-akhir ini, berlomba-lomba dengan achievement yang lagi dikejar dan sedang diraih atau sudah didapatkan, membahas pekerjaan yang membuat mereka kesal but they keep doing it, cerita soal itu-itu lagi atau nggak hampir mirip dengan cerita beberapa hari sebelumnya, nongkrong cantik, ngomongin orang udah begini udah begitu, etc. Gue menyarankan diri gue untuk berada di lingkaran yang lain, kalau mau berkoneksi sama orang pasti ada orang yang balance dan tau apa yang harus ditanya dan diomongin. Gue sedang menginginkan lingkaran yang peacefully, mindfully, meaningful but with a funny story even itu kelucuan yang konyol gue lebih rindu hal itu. I can be serious but life's too serious right now.

The point I am trying to make is, while I can listen to stories of my friends, self-reflect and even inspired by them and annoyed by them. On the other side of my social bubble, all I got is.... nothing? sadness? I find it rather weird. Nggak semua temen gue kayak gitu. There are some cool and nice people in my circle tho and in my life ofc (lagi-lagi harus menjelaskan untuk menghindari kesalahpahaman pembaca-pembaca yang sensitip dan mudah tersinggung seperti saya misalnya). But....

Ah, I am done explaining. You do get my point.

Share:

Thank you, next

 Tulisan terakhir di bulan September ini saya dedikasikan untukmu, Dean.

Terima kasih karena sudah menjadi pribadi yang selalu memiliki rasa peduli, ingin mengerti, dan tidak mudah menerima begitu saja semua hal-hal yang mudah didapatkan. Semangatmu untuk terus belajar dari apapun dan siapapun tidak pernah padam karena untukmu, dunia bukan sekedar untuk dihidupi dan dialami, tapi juga menjadi pemain didalamnya.

Terima kasih karena sudah memilih utuk berteman dan menghargai orang-orang di sekitarmu. Tanpa melihat warna kulitnya, agamanya, ataupun dari mana dia berasal. Aku sangat menghargai keputusanmu untuk menjadi pendengar, merangkul, dan bersuara ketika ada pertikaian yang terjadi. Ketika banyak orang di dunia ini yang egosentris, berteriak-teriak di depan muka orang lain bahwa kebenaran hanya dimiliki oleh mereka, dan bahkan menyakiti hati manusia lainnya, kamu tanpa kenal lelah terus mendengarkan dan menghadapi semua orang yang datang dalam duniamu yang carut-marut ini sesuai kemampuanmu.

Terima kasih karena sudah bergabung dengan barisan orang-orang yang ingin mengubah dunia. Entah berapa banyak orang yang berkata bahwa itu hanya mimpi belaka. Entah ada berapa orang di luar sana yang menganggap dirimu berbeda dan aneh. Tapi kamu tetap percaya, walau harus mendapat ratusan perbandingan di luar sana.

Butuh keberanian untuk bersuara saat dirimu tau akan ada banyak anak panah dilontarkan kepada dirimu. Butuh keberanian untuk bersuara saat dirimu tau akan ada banyak orang yang mencoba membungkam mulutmu dan melarangmu melakukan apa yang kamu mau. Tapi kamu ternyata lebih berani dari yang kamu bayangkan. Perbandingan demi perbandingan, aturan demi aturan, paksaan demi paksaan. Segala perkataan yang membandingkan dan memaksamu, semuanya kamu hadapi tanpa membuatmu jadi melarikan diri. Kamu tetap berdiri bahkan lebih tegak lagi. Terima kasih karena sudah menjadi perempuan yang kuat.

Di dunia yang misoginis ini, tidak jarang kamu disalahkan karena kamu tidak sesuai dengan stereotip gender yang mereka tau. Mereka tidak terbiasa melihat perempuan yang lantang menggunakan kegigihannya untuk sesuatu yang seharusnya sama dengan orang lain. Teguhnya pendirianmu pun disalahartikan. Kepalamu keras, seperti batu katanya. Kamu dianggap selalu merasa paling benar dan sulit menerima masukan mereka yang sarat akan embel-embel demi kebaikan kamu sendiri. Kamu yang diam jika ada orang memandang dirimu tidak kompeten, dianggap terlalu sensitif dan emosional seperti perempuan yang sedang sindrom pre menstruasi.

Dean, jangan takut untuk selalu menjadi dirimu.
Kamu yang tangguh,
kamu yang gigih,
kamu yang terkadang blak-blakan,
kamu yang diam-diam membenci ketidakadilan,
kamu yang diam-diam membenci persamaan dan perbandingan.
kamu yang sebenarnya peduli pada kemanusiaan.
kamu yang ingin membuat dunia terutama lingkungan didekatmu sedikit lebih baik.

Jangan berubah hanya karena ingin menyesuaikan keinginan mereka.
Jangan berubah hanya karena mereka tidak bisa mengerti dan menerimamu apa adanya.
Jangan berubah hanya kamu merasa kamu terlalu aneh dan tidak seperti stereotip perempuan pada umumnya.
Jangan berubah hanya karena mereka bilang kamu berbeda dari orang-orang di lingkungan sekitarmu.
Jangan meminta maaf untuk sesuatu hal yang tidak kamu lakukan.
Jangan meminta maaf karena kamu sudah melakukan kebenaran.
Jangan mendekatkan diri pada hal-hal yang membuatmu marah.

Dean, mungkin Ibumu tidak pernah bilang untuk tidak tinggal diam jika melihat suatu kesalahan. Mungkin Ayahmu tidak pernah bilang untuk berkata maaf jika melakukan suatu kesalahan. Mungkin keduanya juga tidak pernah bilang untuk mencoba menemukan kebahagiaan di dunia ini. Tapi tetaplah pada pendirianmu untuk terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tetap lanjutkan perjuangan yang sedang kamu kejar. Tetap percaya pada keyakinanmu walau kamu harus mengorbankan dirimu. Tetap percaya pada kebahagiaan yang akan kamu temukan dari sebuah pengalaman atau dari orang yang kau temui.

Dean, terima kasih sudah mengizinkanku untuk belajar dari dirimu. Aku ingin kamu dan aku bisa terus maju sampai Tuhan memerintahkan malaikat-Nya untuk menjemput dan mengantarkan kita ke tempat yang lebih baik, lebih damai, dan lebih tentram ketimbang dunia memuakkan ini.
Share: