Chat Chat Chat

Hi! Apa kabar? Keliatannya gue udah lama nggak nulis lagi. Bukan karena gue lupa sih, tapi karena gue lagi kebanyakan mikir aja. Sebenernya sekarang juga masih. Gue kemarin ulang tahun. So happy birthday to me!

Bulan Maret awal urusan gue dengan PKL udah selesai semua. Itu perjalanan yang panjang dan lumayan melelahkan. Untuk mengingat perjalanan itu, banyak cerita-cerita yang nggak bisa dilupain. Sebulan sebelum selesai gue kecelakaan motor. Kalo diceritain rasanya gimana, nggak enak. Banyak ujiannya di tahun lalu dan awal-awal tahun ini. Gue inget ujian dari Allah itu katanya Allah masih inget sama kita dan Allah masih perhatian sama kita. Cuma namanya gue, ya suka ada aja perasaan ngedown-nya. Padahal kalo gue inget-inget lagi Allah nggak akan memberi ujian diluar kemampuan orang itu. Berarti Allah tau kan kalo gue bisa menjalaninya.

Fiuh.... Gue balik lagi ya ke cerita kecelakaan. Well, itu kejadiannya pagi-pagi karena gue berangkat kan habis shalat subuh dan saat itu hujan. Gue inget tujuan gue saat itu biar gue nggak nabrak motor depan yang mau minggir dari angkot, susah ngejelasinnya. Pokoknya angkot depan, motor belakang, mereka di kiri semua dan motor ini mau ke kanan karena angkotnya berenti. Tapi namanya rencana, kita nggak tau kan bakal sesuai atau nggak. Alhasil gue lah yang berguling-guling. Kalo diinget-inget lagi, sebenernya gue nggak inget. Bercanda.. Gue inget kok dikit-dikit.

Gue kalo make helm nggak pernah ditutup kacanya. Tapi hari itu gue tutup. Siapa yang tau kalo gue bakal guling-guling bareng motor ternyata. Jas ujan pada robek di bagian kaki dan tangan, tapi ternyata robeknya juga sampe ke celana yang gue pake. Motor nya masuk ke bawah belakang angkot. Berarti kenceng kan kalo gitu? Motor gue ancur bagian depannya. Gue nelpon ayah terus nangis gara-gara motor. Terus ayah bilang "Motor nya nggak usah dipikirin, Kakak nya gimana."

Gue nggak dijemput karena gue bilang kalo gue masih bisa bawa motor. Karena gue nggak ngerasa ada yang salah dengan anggota tubuh gue. Tapi waktu gue bawa motor pergelangan tangan gue nggak bisa nekuk dan ibu jari gue nggak kuat ngituin lampu sen. Gue tetep bawa motor sebisanya, karena gue punya pemikiran jangan ngerepotin orang. Karena pemikiran itu juga makannya gue nggak mau dijemput.

Ternyata ayah gue nunggu di depan Yasment. Alhamdulillah... Gue sampe rumah bareng ayah gue yang ada dibelakang. Waktu dirumah nangis lagi pas dipeluk ibu. Jujur itu pertama kalinya gue dipeluk sama orang pas lagi kenapa-kenapa. Orang tua gue sebenernya orang yang hangat tapi nggak sampe meluk-meluk dll. Dari kecelakaan itu gue tau apa yang dirasakan drama-drama korea yang gue tonton^^

Tangan gue di gips sekitar sebulan lebih. Waktu gue lepas gips, gue kira bakal langsung bisa digerakkin ternyata nggak. Tapi karena gue masih PKL jadi setelah lepas langsung lanjut lagi, bedanya gue numpang kosan temen kakak gue di Depok supaya deket ke stasiun. Tangan gue belum balik kayak sebelumnya, tapi gue paksain karena mau gimana lagi.

Kayaknya cukup sekian deh ceritanya. Sebenernya gue cuma nyeritain detail kejadian waktu kecelakaan aja. Buat gimana waktu masih di gips dan setelah lepas gips kayaknya kepanjangan.

Setelah kecelakaan gue gampang sakit kepala dan capek. Apalagi sakit kepalanya, rasanya mau jambak rambut sendiri :p
Share:

Curhat Lagi, Curhat Lagi

Gue nggak tau dimana gue harus nulis uneg-uneg ini dan gue nggak tau mesti curhat ke siapa tentang hal ini. Terus gue jadi inget kalau gue punya blog yang bisa gue tulis tentang apa aja. Nyahnyahnyah.

Kali ini ceritanya agak bikin gue bingung, tentang apa yang kemarin-kemarin tejadi. Kenapa gue mau curhat tentang yang baru-baru terjadi? Karena gue udah nggak kuat lagi untuk nggak ngomongin ini, entah ke teman, keluarga, sosial media mana pun. Orang-orang di whatsapp gue akan bosan karena gue selalu berisik di status. Intinya gitu. So, disini gue nggak mau nulis tentang hal itu bener dan hal itu salah. Gue pure 100% pingin curhat.

Jadi gini, gue lagi magang. Magang gue bisa dibilang masih 3 bulan lagi. Terlebih dari 3 bulan ini gue sebelumnya bukan di bagian yang sekarang. Harusnya ya gue udah terbiasa dong ya. Karena gue nggak baru masuk ke tempat magang dan gue sudah pernah ada di bagian lain, bisa dibilang kemampuan menyesuaikan diri gue agak lama. Didalam diri gue memperbolehkan aja kalau gue ingin bebas berekspresi dan berbicara karena hal yang gue pikirkan, tapi karena gue masih di awal nggak mungkin gue bertingkah seolah-olah gue bisa langsung nyambung dan mengikuti lingkungan di sekitar gue. Selama gue mengerjakan dan mempelajari apa yang memang sudah untuk gue, ya sah-sah aja. Begitu juga dengan bagian. Gue bener-bener nggak ngerti dengan ucapan supaya bisa fokus di satu dulu tapi kenyataannya gue dikeluhkan. Gue mengakui gue masih berusaha mengetahui dan mengerti ritme lingkungan disana seperti apa. Dulu (juga) gue di bagian sebelumnya masih bingung, tapi mereka berusaha membuat gue beradaptasi dan membuat gue tahu apa yang perlu gue lakukan. Gue mulai paham, ketika satu orang ini melakukan sesuatu yang membuat mereka merasa sebal, mereka akan mulai mengeluhkan dan berbicara mengenai satu orang ini. Gue berusaha mikir (lagi) "Yaa nggak papa lo juga dulu di awal masih ada rasa bingung". I'm that type of person yang melihat dulu baru gue bisa. Jadi gue sebelumnya pasti nyari info ke orang lain, walaupun gue nggak mencoba mencari tau ke orang-orang disana. Gue tapi kenapa seolah-olah gue yang salah, padahal gue seperti itu karena melihat situasi dan kondisi yang lagi terjadi. But still, gue mikir memang kalau gue bertanya terus-terusan entah hal sepele atau hal-hal lain apa gue nggak akan dikira annoying. I totally know kalau orang lagi sibuk mengerjakan sesuatu dan ditanya nanti akan ke distract. Gue mengikuti apa yang mereka mau but you know "nanti saya panggil, nanti nunggu saya kasih.". Tapi kenapa gue tetep dikeluhkan. I don't know keluhan ini masih berlaku sampai sekarang atau saat itu aja.
So basically gue mulai nggak tenang.

I'm not saying that they're not good to treat someone or they're not a good person. They are really really a good person when I'm in there. Gue masih nerima saat gue denger tentang keluhan kalau gue pendiem waktu itu. Karena gue sadar akan hal itu, gue belum bisa ngobrol-ngobrol atau mengikuti obrolan mereka. Gue pikir sekarang gue akan dibilang aneh karena selalu mencoba bertanya apa yang gue dengar dari sekitar atau apa yang gue lihat. Gue sadar gue mulai merasa aneh dan bingung waktu ada di sekitar mereka, karena jadi banyak banget yang gue pikirin. Gue mulai khawatir lagi tentang diri gue di mata mereka. Gimana tanggapan mereka tentang gue, apa yang mereka mau dari gue, apa yang mereka ekspetasikan tentang diri gue, dan blablabla.  Gue ngerti kenapa gue seperti itu, gue mengerti kenapa gue mulai mikir lain-lain. Orang lain mulai disebut-sebut karena gue beda dari orang sebelumnya. Intinya itu yang mulai membuat gue overthinking over frustation. Gue tau penerimaan dari orang lain nggak semudah itu. Menerima orang lain yang berbeda itu nggak gampang. Gue ngerti itu. Tapi gue jadi mikir apa gue harus kayak dia, yang kenyataannya gue beda dari dia. Gue nggak tau siapa yang ngomong itu, tapi gue mikir mungkin semua nya yang punya pemikiran begitu tentang gue. Karena gue nggak ada bayangan siapa nya.

Dari dulu juga gue selalu mikir kenapa gue orangnya nggak gampang beradaptasi saat pertama kali berada di suatu tempat. Gue termasuk orang yang selalu punya pikiran buruk tentang diri sendiri. Gue belum bisa berpikir hal-hal baik tentang gue dan menerima diri sendiri. Gue selalu ngejudge diri sendiri. Membandingkan diri dengan orang lain bukan hal yang mustahil gue lakuin. Dengan melihat orang lain berpikir tentang gue dan membuat celah antara gue dengan orang lain: Gue membenarkan pikiran-pikiran buruk gue.

So now I'm just sad and thinking about everything. I'm tired about mental weaknesses that I have right now. Gue rasanya mau nangis kalo mikir terus-terusan. Kemarin fisik gue di jalan pulang udah ketar-ketir, dan gue dibilang masuk angin seperti biasa. Orang-orang disini nggak tau pikiran-pikiran itu yang bikin fisik melemah. I mean why you're not talking to someone? Is that someone out there? I don't think so. Semua orang punya kehidupan yang lagi dijalanin masing-masing. It's not okay to interupt their life with your own problems.

My point is, buat diri gue yang masih ada sampe sekarang "How To Survive In This Life." Why are you doing that? Boleh kah kalian coba berpikir dan berusaha mengerti terhadap tidak semua orang sama? Kenapa kalian begitu disaat orang-orang sebelumnya nggak begitu? Kenapa yang diam dikira nggak berusaha? Kenapa orang harus tetep show up dan berusaha terlihat?
Life would have been better if we can accept and understand that not everyone is same. Gue ngerti kok kalau gue seharusnya begini dan begitu, karena tujuan gue disana memang seharusnya itu. Nggak masalah kalau kalian berpikir lain-lain tentang gue, I accept that. I don't care if you are thinking about anything or whatever it is. As long as I'm alive, that's how life's work right?
Share: